Aku dapat tugas bahasa Indonesia, mencari sinopsis novel karya sastrawan lama..
Kebetulan, aku disuruh mencari novel karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) .
Aku menemukan novel karya beliau yang berjudul Dian yang Tak Kunjung Padam .
Penerbit : PN. Balai Pustaka Tahun 1932
Tebal : 156 halaman
Di kawasan Gunung Megang,
dekat kota Palembang, tinggalah pemuda Yasin dengan ibunya. Ayahnya telah
meninggal. Pada suatu hari ia berperahu ke Palembang dan bertemu pandang dengan
seorang gadis jelita bernama Molek. Gadis itu putrid bangsawan di Palembang.
Keduanya jatuh hati. Molek selalu teringat kegagahan Yasin, dan secara tak
sadar Molek mulai suka berdandan. Begitu juga Yasin menjadi gelisah terbayang
wajah Molek. Pada suatu hari Yasin dan ibunya diundang ke perhelatan perkawinan
saudaranya, Madjid di Penaggiran. Selama menghadiri upacara perkawinan ini
Yasin selalu teringat Molek.
Sepulang dari pesta
perkawinan, Yasin memberanikan diri memohon kepada ibunya agar boleh menemui
Molek. Yasin kemudian menulis surat cinta kepada Molek dengan jalan menyelipkan
surat itu di tempat mandi kekasihnya. Molek terkejut ketika mendapatkan surat
Yasin, namun kegembiraan jelas terpancar dari wajahnya. Molek kemudian membalas
surat cinta Yasin dan menyatakan keteguhan hatinya menerima cinta Yasin.
Maka tibalah
keberanian Yasin untuk meminang Molek. Hal ini dipertimbangkannya dengan
pesirah Thalib yang menikahkan Madjid dahulu. Lamaran pun diajukan. Tetapi
orang Tua Molek, yakni R. Makhmud, adalah seorang bangsawan yang berharta. R.
Makhmud marah besar menerima lamaran Yasin orang Uluan itu. Yasin pulang dengan
hati yang hancur. Maka ditulisnya surat kepada Molek, bahwa seolah-olah ia
hendak melepaskan Molek saja. Namun Molek membalas surat Yasin bahwa ia akan
tetap setia kepada Yasin dalam cinta. Yasin diminta menunggu dengan sabar saja.
Sementara itu
seorang pedagang kaya keturunan Arab datang melamar Molek kepada orang tuanya.
Nama pedagang itu ialah Sayid Mustafa. R. Makhmud dengan gembira menerima
lamaran pedagang ini. Mengetahui bahwa ayahnya telah menerima lamaran orang
Arab itu, maka Molek berusaha melarikan diri. Namun usahanya gagal.
Kemudian Molek
dinikahkan dengan Sayid Mustafa yang sudah cukup berumur itu. Molek menerima
kenyataan ini, meskipun cintanya tetap pada kekasihnya, Yasin.
Kehidupan rumah
tangga Molek sengsara. Ia selalu kesepian karena suaminya jarang berada di
rumah. Rasa sepi dan terkurung itu lebih terasa lagi ketika ayah bundanya pergi
naik haji. Suami Molek sebenamya mengawininya hanya demi harta benda yang
dimiliki orang tuanya. Dalam kesepian dan kesedihan itu, tubuh Molek mulai
melayu. Dan dalam saat kesepian demikian itu terlebih-lebih lagi Molek teringat
pada Yasin. Maka ketika ia sendirian di rumah, ditulisnya surat kepada Yasin.
Molek menyatakan dalam surat itu, bahwa ia ingin benar bertemu dengan Yasin.
Dengan menyamar sebagai pedagang nanas, Yasin dapat menemui kekasihnya, Molek.
Pertemuan yang penuh kerinduan itu ditutup dengan pernyataan Molek, bahwa
rohnya adalah tetap milik Yasin selamanya, hanya tubuhnya saja milik suaminya.
Tak lama kemudian
setelah pertemuan yang mengharukan itu, Molek jatuh sakit dan meninggal dunia.
Yasin sangat hancur hatinya. Dan sebagai penghormatan terhadap mendiang
kekasihnya, Yasin bekerja keras membanting tulang. Dan setiap hari Yasin
mengunjungi kubur Molek, di sana ia mendoakan arwah Molek dan berkirim salam
kepadanya.
Setelah ibu Yasin
meninggal dunia juga, maka tak ada lagi penghiburan atas penderitaan batinnya.
Maka Yasin akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai pertapa di gunung Semenung.
Dunia tidak memberikannya kebahagiaan, dan ia mencoba untuk meraihnya dengan
jiwa dan rohnya.
Sekilas tentang penulis ...
Sutan Takdir Alisjahbana (STA), seorang
sastrawan Indonesia, lahir di Natal, Sumatera Utara, pada tanggal 11 Februari
1908. Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4. Menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr.
dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI
(1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Beliau meninggal di
Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun.
Karyanya sebagai penulis
:
- Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
- Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
- Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
- Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
- Layar Terkembang (novel, 1936)
- Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
- Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
- Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
- Pelangi (bunga rampai, 1946)
- Pembimbing ke Filsafat (1946)
- Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
- The Indonesian language and literature (1962)
- Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
- Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai,
1969)
- Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
- Values as integrating vorces in personality,
society and culture (1974)
- The failure of modern linguistics (1976)
- Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
- Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia
dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
- Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia
Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
- Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
- Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan
Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
- Kalah dan Menang (novel, 1978)
- Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung
Jawab (1982)
- Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
- Sociocultural creativity in the converging and
restructuring process of the emerging world (1983)
- Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang
Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
- Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
- Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan
Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
- Sajak-Sajak dan Renungan (1987)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar