Jerman, oyee !

I AM A SUPPORTER OF GERMANY ! ALWAYS SUPPORT GERMANY ~ ^ ^ kalah menang tetap Jerman ! Jerman, aku padamu ! :) GERMANY, I am yours !! I am a big fans of Marco Reus (21) !!

Sabtu, 02 Juni 2012

Sinopsis Dian yang Tak Kunjung Padam

Aku dapat tugas bahasa Indonesia, mencari sinopsis novel karya sastrawan lama..
Kebetulan, aku disuruh mencari novel karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) .
Aku menemukan novel karya beliau yang berjudul Dian yang Tak Kunjung Padam .
berikut sinopsisnya.....





Dian yang Tak Kunjung Padam

Penulis     : Sutan Takdir Alisjahbana
Penerbit   : PN. Balai Pustaka Tahun 1932
Tebal        : 156 halaman

Di kawasan Gunung Megang, dekat kota Palembang, tinggalah pemuda Yasin dengan ibunya. Ayahnya telah meninggal. Pada suatu hari ia berperahu ke Palembang dan bertemu pandang dengan seorang gadis jelita bernama Molek. Gadis itu putrid bangsawan di Palembang. Keduanya jatuh hati. Molek selalu teringat kegagahan Yasin, dan secara tak sadar Molek mulai suka berdandan. Begitu juga Yasin menjadi gelisah terbayang wajah Molek. Pada suatu hari Yasin dan ibunya diundang ke perhelatan perkawinan saudaranya, Madjid di Penaggiran. Selama menghadiri upacara perkawinan ini Yasin selalu teringat Molek.

Sepulang dari pesta perkawinan, Yasin memberanikan diri memohon kepada ibunya agar boleh menemui Molek. Yasin kemudian menulis surat cinta kepada Molek dengan jalan menyelipkan surat itu di tempat mandi kekasihnya. Molek terkejut ketika mendapatkan surat Yasin, namun kegembiraan jelas terpancar dari wajahnya. Molek kemudian membalas surat cinta Yasin dan menyatakan keteguhan hatinya menerima cinta Yasin.

Maka tibalah keberanian Yasin untuk meminang Molek. Hal ini dipertimbangkannya dengan pesirah Thalib yang menikahkan Madjid dahulu. Lamaran pun diajukan. Tetapi orang Tua Molek, yakni R. Makhmud, adalah seorang bangsawan yang berharta. R. Makhmud marah besar menerima lamaran Yasin orang Uluan itu. Yasin pulang dengan hati yang hancur. Maka ditulisnya surat kepada Molek, bahwa seolah-olah ia hendak melepaskan Molek saja. Namun Molek membalas surat Yasin bahwa ia akan tetap setia kepada Yasin dalam cinta. Yasin diminta menunggu dengan sabar saja.

Sementara itu seorang pedagang kaya keturunan Arab datang melamar Molek kepada orang tuanya. Nama pedagang itu ialah Sayid Mustafa. R. Makhmud dengan gembira menerima lamaran pedagang ini. Mengetahui bahwa ayahnya telah menerima lamaran orang Arab itu, maka Molek berusaha melarikan diri. Namun usahanya gagal.


Kemudian Molek dinikahkan dengan Sayid Mustafa yang sudah cukup berumur itu. Molek menerima kenyataan ini, meskipun cintanya tetap pada kekasihnya, Yasin.

Kehidupan rumah tangga Molek sengsara. Ia selalu kesepian karena suaminya jarang berada di rumah. Rasa sepi dan terkurung itu lebih terasa lagi ketika ayah bundanya pergi naik haji. Suami Molek sebenamya mengawininya hanya demi harta benda yang dimiliki orang tuanya. Dalam kesepian dan kesedihan itu, tubuh Molek mulai melayu. Dan dalam saat kesepian demikian itu terlebih-lebih lagi Molek teringat pada Yasin. Maka ketika ia sendirian di rumah, ditulisnya surat kepada Yasin. Molek menyatakan dalam surat itu, bahwa ia ingin benar bertemu dengan Yasin. Dengan menyamar sebagai pedagang nanas, Yasin dapat menemui kekasihnya, Molek. Pertemuan yang penuh kerinduan itu ditutup dengan pernyataan Molek, bahwa rohnya adalah tetap milik Yasin selamanya, hanya tubuhnya saja milik suaminya.

Tak lama kemudian setelah pertemuan yang mengharukan itu, Molek jatuh sakit dan meninggal dunia. Yasin sangat hancur hatinya. Dan sebagai penghormatan terhadap mendiang kekasihnya, Yasin bekerja keras membanting tulang. Dan setiap hari Yasin mengunjungi kubur Molek, di sana ia mendoakan arwah Molek dan berkirim salam kepadanya.

Setelah ibu Yasin meninggal dunia juga, maka tak ada lagi penghiburan atas penderitaan batinnya. Maka Yasin akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai pertapa di gunung Semenung. Dunia tidak memberikannya kebahagiaan, dan ia mencoba untuk meraihnya dengan jiwa dan rohnya.

Sekilas tentang penulis ...

Sutan Takdir Alisjahbana (STA), seorang sastrawan Indonesia, lahir di Natal, Sumatera Utara, pada tanggal 11 Februari 1908. Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4.  Menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Beliau meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun.




Karyanya sebagai penulis :
  • Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
  • Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932) 
  • Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
  • Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
  • Layar Terkembang (novel, 1936)
  • Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
  • Puisi Lama (bunga rampai, 1941)
  • Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
  • Pelangi (bunga rampai, 1946)
  • Pembimbing ke Filsafat (1946)
  • Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
  • The Indonesian language and literature (1962)
  • Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
  • Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
  • Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
  • Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
  • The failure of modern linguistics (1976)
  • Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
  • Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
  • Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
  • Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
  • Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)
  • Kalah dan Menang (novel, 1978)
  • Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
  • Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
  • Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
  • Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
  • Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
  • Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
  • Sajak-Sajak dan Renungan (1987)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar