Masalahkah Perbedaan Itu?
Lisa Arttistika Pabidang *)
BUNYI nyaring terdengar dari perut seseorang yang terlantar, terbuang, dan tersakiti. Kian lama kian menggerogoti. Lapar, orang yang tak punya mengalaminya. Inilah takdir. Tidur di tempat yang gelap pekat, dingin menusuk. Mereka tinggal dan merasakan pilu di sana. Orang miskin,begitulah mereka. Sedangkan yang kaya, apa yang mereka rasakan? Kenyamanan, perut selalu terisi, barang yang diinginkan selalu ada, tak perlu susah-susah lagi.
Kondisi sosial yang dialami berbagai kalangan manusia memang berbeda. Dokter dengan nelayan pasti berbeda, dosen dengan guru juga berbeda, bahkan sesama petani bisa saja berbeda. Kesenjangan sosial muncul, karena adanya perbedaan di masyarakat, khususnya antara kaya dan miskin. Walaupun orang kaya kebutuhannya telah terpenuhi, tapi mereka belu puas-puas dengan apa yang sudah mereka miliki. Sedangkan bagi orang miskin, jika kebutuhan primernya terpenuhi, itu sudah lebih dari cukup.
Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, begitulah petikan lagu dari Raja Dangdut, Roma Irama. Mereka semakin kaya bisa dari dua faktor, positif dan negatif. Positif, dari hasil kerja keras dan ketekunan mereka. Negatif, dari hasil mengambil hak milik rakyat, yaitu korupsi. Contoh nyata bisa dilihat pada Gayus Tambunan, Malinda Dee, atau yang terbaru, Dhana Widyatmika. Mereka aalah orang kaya, dengan penghasilan puluhan juta rupiah per bulan. Semua barang bisa mereka dapatkan. Akan tetapi, karena kepuasannya yang tidak terhingga, mereka akhirnya korupsi. Siapa yang tidak ingin uang? Semua orang pasti menginginkan uang. Bagaimana cara mendapatkan dan menggunakannya, itu bergantung pada diri sendiri, yang pasti harus dilakukan dengan baik. Kita tidak boleh menganggap uang adalah segalanya.
Yang kaya semakin kaya. Lalu bagaimana dengan yang miskin? Tentu saja mereka semakin miskin. Mengapa mereka bisa semakin miskin?! Karena hak mereka diambil oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, jangan hanya menyalahkan para oknum tersebut, kaena mereka yang miskin juga punya andil untuk menentukan hidupnya. Mungkin itu karena tidak berusaha mencari atau menciptakan penghasilan, malas, tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan, dan sebagainya.
Yang kaya semakin kaya. Lalu bagaimana dengan yang miskin? Tentu saja mereka semakin miskin. Mengapa mereka bisa semakin miskin?! Karena hak mereka diambil oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, jangan hanya menyalahkan para oknum tersebut, kaena mereka yang miskin juga punya andil untuk menentukan hidupnya. Mungkin itu karena tidak berusaha mencari atau menciptakan penghasilan, malas, tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan, dan sebagainya.
Orang miskin tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, karena mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka juga tinggal di rumah yang tak layak ditinggali, seperti rumah yang terbuat dari kardus, atapnya bocor, dan ukuran yang sangat kecil. Mereka terpaksa tinggal di daerah kumuh, di emperan toko, bahkan tinggal di kuburan.
Karena kesenjangan sosial, timbulah keterbatasan dalm pergaulan. Si kaya enggan bergaul dengan si miskin, karena mereka hidup di lingkungan yang sangat berbeda. Mereka bagaikan langit dan bumi. Si kaya merasa jauh di atas si miskin, dan mereka merasa berkuasa atas kalangan orang miskin. Harus disadari, tidak semua orang kaya yang begitu. Negative thinking tidak perlu diperbesar.
Kesenjangan ini makin terasa berat bagi si miskin karena kondisi sosial yang makin tidak memihak mereka, seperti tidak tersedianya lapangan kerja bagi mereka, sehingga angka pengangguran meningkat. Ditambah lagi peningkatan biaya hidup seperti mahalnya harga barang-barang, BBM yang rencananya akan naik, dan lain-lain. Problem ini akan meledak dalam bentuk pencurian dan perampokan, karena mereka akan menghalalkan segala cara agar kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Bahkan mereka melakukan demonstrasi menentang pemerintah karena kebijakan yang tidak memihak mereka.
Pemerintah harus mengambil kebijakan-kebijakan yang sekiranya bisa mengatasi kesenjangan sosial. Kebijakan yang harus dilakukan pemerintah, contohnya pemerataan pembangunan, mengurangi pengangguran dengan cara membuka lapangan pekerjaan, dan tidak diskriminasi terhadap masyarakat (karena perbedaan suku, ras, dan agama). Pemerintah juga sudah mengambil kebijakan dalam aspek pendidikan, contohnya program BOS dan beasiswa bagi siswa berprestasi yang membutuhkan bantuan.
Keadilan bukan diwujudkan oleh pemerintah, tetapi oleh masyarakat juga. Contohnya, di depan hukum tidak pandang bulu, jika ada yang salah, harus diberikan hukuman yang sepantasnya. Jangan mau disuap untuk melakukan kecurangan! Berlakulah jujur, sebagaimana adanya.
Termasuk kalangan orang kayakah Anda? Jika ya, cobalah untuk melihat saudara-saudara di sekitar yang kekurangan. Sumbangkanlah barang-barang milik Anda yang sudah tidak dipakai lagi, tetapi masih layak pakai. Dan cobalah untuk membuka lapangan kerja bagi pengangguran. Tindakan itu pasti sangat berharga bagi mereka.
Atau termasuk kalangan orang miskinkah Anda? Jika ya, berusahalah untuk membuktikan kepada orang lain di luar sana, bahwa Anda tidak mau diremehkan lagi karena Anda bisa sukses! Jika Anda terlahir miskin, itu bukan kesalahan Anda. Tetapi jika Anda mati dalam kemiskinan, itu mutlak kesalahan Anda! Selalu ada jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan asal asa niat dan kesungguhan. Memang hasilnya tidak cepat dinikmati juga tidak semudah membalik tangan karena semua ada prosesnya.
Jika sadar bahwa Anda adalah orang kaya atau miskin yang beradab, pasti tidak akan bertengkar karena kesenjangan sosial. Bertengkar karena perbedaan status dan derajat sangat bersifat kekanak-kanakan. Padahal untuk membangun Indonesia, salah satunya harus menjadi negarawan dewasa. Jadi, di Indonesia tidak boleh lagi ada kesenjangan sosial, karena semua manusia sama di depan hukum dan di mata Tuhan.
*Lisa Arttistika Pabidang adalah Siswa SMPK Santo Thomas Pamekasan
Tulisan ini ada di dalam buku Suara Siswa untuk Bangsa (hal 108-111) diterbitkan pertama kali oleh CV. Malowopati Surabaya, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar